Sabtu, 07 April 2018

“Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran, Bahan Ajar, dan Metode Pembelajaran Terhadap Prestasi Siswa Kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa”


BAB I
 PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan arus globalisasi telah membawa perubahan dihampur semua aspek kehidupan manusia. Dampak dari perubahan tersebut dapat membawa permasalahan baru bagi manusia. Oleh karena itu, untuk menghadapi permasalahan-permasalahn yang timbul sangat diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Usaha untuk meningkatkan kulaitas sumber daya manusia (SDM) harus dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang terencana, terarah, intensif, dan efisien.
Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa. Pendidikan itu merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan, manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga negara masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran bertujuan agar siswa mencapai perkembangan optimal, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.Hal ini sangat penting bagi siswa untuk persiapan di masa depan dalam kehidupan bermasyarakat, untuk itu guru harus bertugas dan bertanggungjawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasi berbagai teori belajar dalam bidang pembelajaran. Kemampuan memilih dan menerapkan metode maupun media pembelajaran yang efektif dan efisien, kemampuan melibatkan siswa berpatisipasi aktif dan kemampuan membuat suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
Berbagai upaya telah ditempuh untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, seperti : pembaharuan dalam kurikulum, pengembangan media pembelajaran, pengembangan bahan ajar dan metode, perubahan system penilain, dan sebagainya. Salah satu unsur yang sering dikaji dalam hubungannya dengan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah media pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran di sekolah.
Media merupakan salah satu komponen dalam kegiatan pembelajaran. Heinich, Molenda, Russel, and Smaldino (1993: 2) mengungkapkan bahwa "media is a channel of communication. Derived from the Latin word meaning "between", the term refers "to anything that carries information between a source and a receiver." Berdasar pandangan tersebut, media adalah salah satu bentuk saluran komunikasi, dimana merupakan sebuah perantara atau dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan informasi diantara sumber dan penerima informasi.
Penggunaan media pada tingkat sekolah dasar merupakan hal yang penting, mengingat bahwa usia siswa sekolah dasar termasuk dalam tahapan operasional konkret. Piaget (Rita Eka Izzaty, dkk. , 2008: 35) berpendapat bahwa tahap perkembangan kognitif siswa usia sekolah dasar, yakni 6 sampai 12 tahun merupakan tahap operasional konkret, pada tahapan ini siswa telah dapat membentuk ide berdasarkan pemikiran yang muncul pada benda atau kejadian logis disekitarnya atau dengan kata lain siswa mulai befikir logis terhadap obyek yang konkret, sehingga penyampaian materi akan lebih efektif jika dibantu oleh sebuah media yang dapat mengasah tingkat keaktifan dan berpikir siswa secara mandiri.
Media digunakan sebagai pendukung keberlangsungan kegiatan pembelajaran, sedangkan kegiatan pembelajaran selalu berawal dari sebuah kurikulum. Aunurrahman (2009: 34) menyatakan instruction atau pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mendukung dan mempengaruhi terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
Menjadi guru yang baik, secara minimal harus memiliki dasar suatu pembelajaran, karena dengan memiliki dasar suatu pembelajaran guru akan mudah mengajarkan suatu mata pelajaran di kelas, yakni dasar-dasar pembelajran tersebut diantranya yang terpenting dalam pembelajaran adalah pengembangan materi/bahan ajar, guru yang mampu mengembangkan bahan ajar akan membuat bervariasi dalam pembelajrannya, karena guru tersebut kreatif dan mampu mengembangan bahan ajar yang telah di sedikan atau belum disediakan oleh sekolah tersebut.
Bahan pengajaran bukan semata-mata berarti semua uraian yang tertera dalam buku sumber atau sumber tercetak lainnya, melainkan memiliki klasifikasi tertentu. Berdasarkan klasifikasi itulah, kemudian guru memilih bahan ajar yang mana akan disajikan dalam perencanaan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Sebagai kerangka acuan , bahan ajar pada umunya di klasifikasikan dalam tiga bidang, yakni pengetahuan, keterampilan dan afektif. Hal ini sesuai dengan tujuan – tujuan yang hendak di capai. (Omar 2009:139)
Bahan ajar meliputi media cetak dan non cetak/ elektronik yang menganung informasi serta dapat membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Mengembangkan bahan ajar dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas yang ada pada sekolah tersebut diantaranya perpustakaan. Di perpustakaan terdapat informasi tentang pokok bahasan tertentu dalam bentuk buku, famlet,booklet dan leafet.
Bahan pembelajaran merupakan susunan sistematis materi pembelajaran dari berbagai sumber bahan pembelajaran baik tertulis seperti buku pelajaran, modul, handout, LKS maupun yang tidak tertulis seperti maket, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif yang di pakai atau digunakan sebagai pedoman atau panduan oleh pendidik atau instruktur dalam proses belajar dan pembelajaran.
Mengajar merupakan tugas pokok seorang guru.Guru yang terampil mengajar dapat merasakan bahwa mengajar merupakan suatu hal yang mengembirakan, yang membuatnya melupakan kelelahan.Mengajar merupakan bagian dari seni.Namun tidak semua guru dapat merasakan hal yang demikian.Hal ini disebabkan oleh sulitnya mencari metode mengajar yang tepat.
Selama ini tidak ada pegangan yang pasti bagi seorang guru untuk mendapatkan metode mengajar yang paling tepat.Tepat atau tidaknya suatu metode baru terbukti setelah mengetahui hasil belajar peserta didik.Berdasarkan hal ini dapat dipahami bahwa betapa pentingnya seorang guru menguasai ilmu metode pembelajaran.
metode pembelajaran merupakan sebuah cara yang dipakai oleh pendidik agar terjadi belajar pada peserta didik dengan upaya untuk mencapai tujuan tertentu.
Prestasi belajar merupakan hasil pengukuran terhadap peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran dalam periode tertentu yang dapat diukur menggunakan instrumen yang relevan. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, ada yang dari dalam diri (internal) dan ada yang dari luar diri (eksternal).
Hasil observasi awal terhadap prestasi belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 3 Sambung Jawa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkajene dan Kepulauan, menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa sebagian besar masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sehingga dapat disebut bahwa prestasi belajar siswa masih rendah. KKM ditentukan oleh masing-masing sekolah sehingga mempunyai standar yang berbeda-beda. Data nilai UTS semester 1 rata-rata mendapatkan nilai 69 sedangkan KKM yang dinyatakan tuntas adalah nila 70. Prestasi belajar yang menunjukkan tingkat keberhasilan anak dalam belajar di sekolah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Guru yang kurang dalam pengembangan media pembelajaran, bahan ajar, dan bagaimana menggunakan media pembelajaran yang tepat.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pengembangan media pembelajaran, bahan ajar, metode pembelajaran yang harus didmilki seorang pengajar diduga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Akan tetapi, kebanyakan seorang pengajar (guru) tidak memanfaatkan pengembangan yang di anjurkan dalam pembelajaran. Maka dari itu hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran, Bahan Ajar, dan Metode Pembelajaran Terhadap Prestasi Siswa Kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa”

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang masalah di atas dapat di identifikasikan permasalahannya sebagai berikut.
1.      Apakah pengaruh secara simultan penggunaan media pembelajaran, bahan ajar, dan metode pembelajaran terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa?
2.      Apakah Ada Pengaruh penggunaan media pembelajaran terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa?
3.      Apakah Ada Pengaruh penggunaan Bahan Ajar terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa?
4.      Apakah Ada Pengaruh penggunaan Metode Pembelajaran terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa?
5.      Faktor manakah yang berpengaruh dominan terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa?



C.    TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelitian sebagai berikut:
1.      Untuk menganalisis  pengaruh secara simultan penggunaan media pembelajaran, bahan ajar, dan metode pembelajaran terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa
2.      Untuk menganalisis  Pengaruh penggunaan Media Pembelajaran terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa
3.      Untuk menganalisis  Pengaruh penggunaan Bahan Ajar terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa
4.      Untuk menganalisis  Pengaruh penggunaan Metode Pembelajaran terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa
5.      Untuk menganalisis  Faktor yang berpengaruh dominan terhadap prestasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Sambung Jawa
D.    MANFAAT PENULISAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengaruh penggunaan media pembelajaran, bahan ajar, dan metode pembelajaran dalam merespon materi pembelajaran dan prestasi belajar siswa.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri maupun bagi para pembaca atau pihak-pihak yang berkepentingan. Sedangkan manfaat secara praktisnya yaitu:
1.                  Bagi Siswa
Siswa diharapkan mendapatkan pengalaman baru dalam proses belajar dan dapat meningkatkan hasil belajar sehingga terpacu untuk terus berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam prestasi.
2.                  Bagi Guru atau Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Sehingga dengan adanya penelitian ini, diharapkan penulis dan semua pihak yang berkepentingan dapat lebih memahami penggunaan media pembelajaran, bahan ajar, dan metode pembelajaran dalam mengembangkan prestasi siswa.
3.                  Bagi Sekolah
Penelitian ini difokuskan kepada siswa kelas IV SD sesuai tema pembelajaran yang diajarkan pada saat itu. Sehingga para pembaca, guru, atau pihak-pihak lain yang berkepentingan diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai pertimbangan dalam aplikasi dalam proses pembelajarannya. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan untuk meningkatkan komitmen sekolah dalam meningkatkan meningkatkan kualitas peserta didik menjadi semakin baik lagi.

PENGERTIAN PENDIDIKAN, KURIKULUM, PEMBELAJARAN, MENGAJAR, BELAJAR, BAHAN AJAR DAN MENURUT PARA AHLI/PAKAR


& PENGERTIAN PENDIDIKAN, KURIKULUM, PEMBELAJARAN, MENGAJAR, BELAJAR, BAHAN AJAR DAN MENURUT PARA AHLI/PAKAR
A.       PENDIDIKAN (Education).
1.      Pendidikan (Poerwadarminta.1976). berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan” mengandung arti pebuatan (hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini berasal dari bahasa yunani yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan . Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan.
2.      Pendidikan (Stella Van Petten Henderson) yaitu suatu kombinasi dari pertumbuhan dan perkembangan insani dengan warisan sosial.
3.      Pendidikan (Ki Hajar Dewantoro sebagai Bapak Pendidikan Indonesia) pendidikan diartikan sebagai upaya untuk menuntun setiap anak menjadi manusia yang tumbuh dan berkembang baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat agar tercapai kebahagiaan.
4.      Pendidikan (Ahmad D. Marimba) bahwa pendidikan merupakan bimbingan yang diberikan secara sadar oleh guru atau pendidik kepada siswa atau peserta didik. Bimbingan ini bertujuan untuk membentuk kepribadian peserta didik secara utuh yaitu jasmani dan rohani.
5.      Pendidikan (Horne) adalah proses yang dilakukan secara terus menerus dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi manusia yang telah berkembang secara fisik dan mentalnya.
KESIMPULAN`
Pendidikan merupakan upaya seorang dalam memberikan bimbingan untuk mencapai tujuan  untuk membentuk kepribadian peserta didik secara utuh  yaitu jasmani dan rohani, baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat.
B.       KURIKULUM ( Curriculum)
1.      Steven A. Romine (1954).
Menafsirkan arti kurikulum sebagai pelajaran, kegiatan dan pengalaman belajar yang diperoleh siswa dengan pengarahan dari sekolah baik dilakukan dari dalam maupun dari luar.
2.      Hilda Taba (1962:11).
“Memandang kurikulum dari sisi lain bagi taba kurikulum adalah “ Rencana belajar”.
3.      Harold Rugg (1827).
Menyatakan kurikulum adalah sebagai rangkaian pengalaman yang memiliki kemanfaatan maksimun bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan untuk menyesuaikan dan menghadapi berbagai situasi kehidupan”.


4.      Robert Bagne (1967).
Mengatakan bahwa kurikulum adalah rangkaian unit materi belajar yang disusun sedemikian rupa hingga anak didik dapat mempelajarinya berdasarkan kemampuan awal yang dimiliki/dikuasai sebelumnya.
5.      Ralph Tyler (1857).
“Kurikulum adalah seluruh pengalaman belajar yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah utuk mencapai tujuan pendidikan.
KESIMPULAN
Kurikulum merupakan rangkaian materi belajar yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pengalaman, yang memiliki kemanfaatan dalam mencapai tujuan pendidikan.
C.    PEMBELAJARAN (Instruction).
1.      Menurut Komalasari (2013:3)
Pembelajaran merupakan suatu sistem atau proses membelajarkan pembelajar yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara sistematis agar pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien.
2.      Menurut Syah (2010:215).
Pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan seseorang agar  orang lain belajar.
3.      Menurut Arifin (2010:10).
Pembelajaran merupakan suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik “guru” dengan siswa, sumber belajar, dan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya tindakan belajar siswa.
4.      Winataputra (2007;1).
Menyatakan arti pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.
5.      Menurut Sanjaya (2011:13-14)
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang kompleks yang keberhasilannya dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek produk dan aspek proses. Keberhasilan pembelajaran dilihat dari sisi produk adalah keberhasilan siswa mengenai hasil yang diperoleh dengan mengabaikan proses pembelajaran.
KESIMPULAN
Pembelajaran adalah Pembelajaran yang direncanakan, dilaksanakan, serta mengevaluasi yang bersifat interaktif dan komunikatif antara guru dan siswa  untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
D.    MENGAJAR ( Teaching ).
1.        Arifin (1978).
mengajar sebagai suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran.
2.      HR Ibn Abdil-Barr.
Mengajar adalah suatu cara yang terbaik untuk bersedekah. Mengajarkan ilmu dapat mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME).
3.      Highet (1954)
Mengajar adalah berupa “menjadi” tidak “dijadikan”, nilai yang telah dimiliki oleh setiap pengajar atau guru di luar dari garapan ilmiah, emosi, dan itu sebabnya mengajar menurutnya suatu seni bukan ilmu.
4.      Tyson dan Caroll (1970).
Mengajar ialah …. a way working with students…a process of interaction …the teacher does something to student; the students do something in return. Dari definisi ini tergambar bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan (Syah, 2002 : 181).
5.      Nasution (1986).
 Mengajar adalah “…suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar”. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang kelas (ruang belajar), tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa.



KESIMPULAN
Mengajar meupakan sebagai rangkaian untuk melakukan proses kegiatan mengajar  dalam menyampaikan ilmu kepada siswa. Dimana guru dan siswa sama-sama aktif melakukan kegiatan belajar mengajar.
E.     BELAJAR (learning)
1.      Hamalik (2010).
Belajar adalah bukan suatu tujuan tetapi merupakan proses untuk mencapai tujuan. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.
2.      Skinner (dalam Mudjiono dan Dimyanti,2006 ).
Belajar sebagai suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responya  menjadi lebih baik, sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun.
3.      Thursan Hakim (2003).
Belajar adalah suatu proses perubahan didalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kecakapan pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keteampilan, daya fikir, dan lain-lain kemampuannya.
4.      Oemar Hamalik (2007;36-37)
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.


5.      Rusman (2013;1).
Belajar merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu.
KESIMPULAN
Belajarmerupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu dalam kepibadiannya melalui proses belajar melihat, mengamati, dan  memahami sesuatu dengan melalui interaksi dengan lingkungan.
F.     BAHAN AJAR ( Learning Materials ).
1.      Mulyasa (2006;96).
Bahan ajar merupakan salah satu bagian dari sumber ajar yang dapat diartikan sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran
2.      Widodo dan Jasmadi dan Ika Lestari (2013;1).
Bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi dan subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.
3.      Panen (2001).
Bahan ajar merupakan bahan-bahan atau matei pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
4.      Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (2008;6).
Bahan ajar adalah Segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
5.         Hamdani (2011;219).
Bahan ajar merupakan informasi, alat / teks yang diperlukan oleh guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
KESIMPULAN
Bahan Ajar merupakan bahan seperangkat sarana dan prasarana dalam proses pembelajaran yang dirancang  secara sistematis dan menarik untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

TEORI PERUBAHAN DARI BEBERAPA TOKOH


TEORI PERUBAHAN DARI BEBERAPA TOKOH
1.      Teori Siklus
Teori siklus menjelaskan bahwa perubahan sosial bersifat siklus artinya berputar melingkar. Menurut teori siklus, perubahan sosial merupakan sesuatu yang tidak bisa direncanakan atau diarahkan ke suatu titik tertentu, tetapi berputar-putar menurut pola melingkar. Pandangan teori siklus ini, yaitu perubahan sosial sebagai suatu hal yang berulang-ulang. Apa yang terjadi sekarang akan memiliki kesamaan atau kemiripan dengan apa yang ada di zaman dahulu. Di dalam pola perubahan ini tidak ada proses perubahan sosial masyarakat secara bertahap sehingga batas-batas antara pola hidup primitif, tradisional, dan modern tidak jelas. Perubahan siklus merupakan pola perubahan yang menyerupai spiral seperti gambar berikut.
Teori Siklus - Teori Perubahan Sosial
Pandangan teori siklus sebenarnya telah dianut oleh bangsa Yunani, Romawi, dan Cina Kuno jauh sebelum ilmu sosial modern lahir. Mereka membayangkan perjalanan hidup manusia pada dasarnya terperangkap dalam lingkaran sejarah yang tidak menentu. 
            Seorang filsuf sosial Jerman, Oswald Spengler, berpandangan bahwa setiap peradaban besar menjalani proses penahapan kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Selanjutnya, perubahan sosial akan kembali pada tahap kelahirannya kembali. Seorang sejarawan sosial Inggris, Arnold Toynbee, berpendapat bahwa sejarah peradaban adalah rangkaian siklus kemunduran dan pertumbuhan. Akan tetapi, masingmasing peradaban memiliki kemampuan meminjam kebudayaan lain dan belajar dari kesalahannya untuk mencapai tingkat peradaban yang tinggi. Salah satu contoh adalah kemajuan teknologi di suatu masyarakat umumnya terjadi karena proses belajar dari kebudayaan lain.
Kita dapat melihat kebenaran teori siklus ini dari kenyataan sosial sekarang. Misalnya, dari perilaku mode pakaian, dan gaya kepemimpinan politik. Sebagai contoh, dalam perubahan mode pakaian, seringkali kita melihat mode pakaian terbaru kadang-kadang merupakan tiruan atau mengulang model pakaian zaman dulu.
    Dalam bidang politik, kita juga melihat adanya perubahan bersifat siklus. Sering kita melihat upacara-upacara sosial yang dilakukan pemimpin suku di zaman kuno dilakukan kembali oleh pemimpin politik masyarakat modern sekarang, misalnya melakukan upacaraupacara yang sifatnya memuja dan memelihara tradisi turun-temurun.

2.      Teori Perkembangan/Teori Linier
            Menurut teori ini perubahan sosial bersifat linier atau berkembang menuju ke suatu titik tujuan tertentu. Penganut teori ini percaya bahwa perubahan sosial bisa direncanakan atau diarahkan ke suatu titik tujuan tertentu. Masyarakat berkembang dari tradisional menuju masyarakat kompleks modern. Bentuk perubahan sosial menurut teori ini dapat digambarkan seperti tampak dalam gambar berikut.
 Teori Perkembangan - Teori Linier - Teori Perubahan Sosial
Pandangan tentang teori linier dikembangkan oleh para ahli sosial sejak abad ke-18, bersamaan dengan munculnya zaman pencerahan di Eropa yang berkeinginan masyarakat lebih maju. Teori linier dapat dibagi menjadi dua, yaitu teori evolusi dan teori revolusi. Teori evolusi melihat perubahan secara lambat, sedangkan teori revolusi melihat perubahan secara sangat drastis. Menurut teori evolusi bahwa masyarakat secara bertahap berkembang dari primitif, tradisional, dan bersahaja menuju masyarakat modern. Teori ini dapat kita lihat di antaranya dalam karya sosiolog Herbert Spencer, Emile Durkheim, dan Max Weber. Herbert Spencer seorang sosiolog Inggris, berpendapat bahwa setiap masyarakat berkembang melalui tahapan yang pasti. Herbert Spencer mengembangkan teori evolusi Darwin untuk diterapkan dalam kehidupan sosial.
    Menurut Spencer orang-orang yang cakap akan memenangkan perjuangan hidup, sedangkan orang-orang lemah akan tersisih sehingga masyarakat yang akan datang hanya diisi oleh manusia-manusia tangguh yang memenangkan perjuangan hidup.
    Emile Durkheim mengetengahkan teorinya yang terkenal bahwa masyarakat berkembang dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Solidaritas mekanik merupakan cara hidup masyarakat tradisional yang di dalamnya cenderung terdapat keseragaman sosial yang diikat oleh ide bersama. Sebaliknya, solidaritas organik merupakan cara hidup masyarakat lebih maju yang berakar pada perbedaan daripada persamaan. Masyarakat terbagi-bagi secara beragam atau terjadi proses diferensiasi kerja.
    Teori revolusioner dapat kita lihat dalam karya Karl Marx sebagai sosiolog. Karl Marx juga melihat masyarakat berubah secara linier, namun bersifat revolusioner. Semula masyarakat bercorak feodal lalu berubah secara revolusioner menjadi masyarakat kapitalis. Kemudian, berubah menjadi masyarakat sosialis-komunis sebagai puncak perkembangan masyarakat.
    Max Weber berpendapat bahwa masyarakat berubah secara linier dan masyarakat yang diliputi oleh pemikiran mistik menuju masyarakat yang rasional. Terjadi perubahan dari masyarakat tradisional yang berorientasi pada tradisi turun-temurun menuju masyarakat modern yang rasional.

3.      Teori Evolusi (Evolutionary Theory)
Teori ini berpijak pada teori evolusi Darwin dan dipengaruhi oleh pemikiran Herbert Spencer. Tokoh yang berpengaruh pada teori ini ialah Emile Durkheim dan Ferdinand Tonnies. Durkheim berpendapat bahwa perubahan karena evolusi memengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, terutama yang berhubungan dengan kerja. Adapun Tonnies memandang bahwa masyarakat berubah dari masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan yang erat dan kooperatif, menjadi tipe masyarakat besar yang memiliki hubungan yang terspesialisasi dan impersonal. Tonnies tidak yakin bahwa perubahanperubahan tersebut selalu membawa kemajuan. Dia melihat adanya fragmentasi sosial (perpecahan dalam masyarakat), individu menjadi terasing, dan lemahnya ikatan sosial sebagai akibat langsung dari perubahan sosial budaya ke arah individualisasi dan pencarian kekuasaan. Gejala itu tampak jelas pada masyarakat perkotaan. Teori ini masih belum memuaskan banyak pihak karena tidak mampu menjelaskan jawaban terhadap pertanyaan mengapa masyarakat berubah. Teori ini hanya menjelaskan proses perubahan terjadi.
 
4. Teori Konflik (Conflict Theory)
    Menurut teori ini, konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl
Marx yang menyebutkan bahwa konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial. Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas di masyarakat. la yakin bahwa konflik atau pertentangan selalu menjadi bagian dari masyarakat. Menurut pandangannya, prinsip dasar teori konflik (konflik sosial dan perubahan sosial) selalu melekat dalam struktur masyarakat.

5. Teori Fungsional (Functional Theory)
    Teori fungsional berusaha melacak penyebab perubahan sosial sampai pada ketidakpuasan masyarakat akan kondisi sosialnya yang secara pribadi memengaruhi mereka. Teori ini berhasil menjelaskan perubahan sosial yang tingkatnya moderat. Konsep kejutan budaya menurut William F. Ogburn berusaha menjelaskan perubahan sosial dalam kerangka fungsional. Menurutnya, meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu sama lain, beberapa unsurnya bisa saja berubah dengan sangat cepat, sementara unsur lainnya tidak. Ketertinggalan tersebut menjadikan kesenjangan sosial dan budaya di antara unsur-unsur yang berubah sangat cepat dan unsur yang berubah lambat. Kesenjangan ini akan menyebabkan adanya kejutan sosial dan budaya pada masyarakat.
    Ogburn menyebutkan perubahan teknologi biasanya lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial, seperti kepercayaan, norma, nilai-nilai yang mengatur masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa perubahan teknologi seringkali menghasilkan kejutan budaya yang pada gilirannya akan memunculkan polapola perilaku yang baru meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional. Contohnya, ketika alat-alat kontrasepsi pertama kali diluncurkan untuk mengendalikan jumlah penduduk dalam program keluarga berencana (KB), banyak pihak menentang program tersebut karena bertentangan dengan nilai-nilai agama serta norma yang berlaku di masyarakat pada waktu itu. Meskipun demikian, lambat laun masyarakat mulai menerima program KB tersebut karena dapat bermanfaat untuk mencegah pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.
4. Teori Siklis (Cyclical Theory)

Teori ini mencoba melihat bahwa suatu perubahan sosial itu tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapapun dan oleh apapun. Karena dalam setiap masyarakat terdapat perputaran atau siklus yang harus diikutinya. Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu kebudayaan atau kehidupan social merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari. Sementara itu, beberapa bentuk Teori Siklis adalah sebagai berikut.

a. Teori Oswald Spengler (1880–1936)
Menurut teori ini, pertumbuhan manusia mengalami empat tahapan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Pentahapan tersebut oleh Spengler digunakan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat, bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses siklus ini memakan waktu sekitar seribu tahun.

b. Teori Pitirim A. Sorokin (1889–1968)
Sorokin berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Siklus tiga sistem kebudayaan ini adalah kebudayaan ideasional, idealistis, dan sensasi.
1) Kebudayaan ideasional, yaitu kebudayaan yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.
2) Kebudayaan idealistis, yaitu kebudayaan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural) dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat ideal.
3) Kebudayaan sensasi, yaitu kebudayaan di mana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

c. Teori Arnold Toynbee (1889–1975)
Toynbee menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan akhirnya kematian. Beberapa peradaban besar menurut Toynbee telah mengalami kepunahan kecuali peradaban Barat, yang dewasa ini beralih menuju ke tahap kepunahannya.

3. Teori Fungsionalis (Functionalist Theory)

Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag.

Para penganut Teori Fungsionalis lebih menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Tokoh dari teori ini adalah William Ogburn.

Secara lebih ringkas, pandangan Teori Fungsionalis adalah sebagai berikut.
a. Setiap masyarakat relatif bersifat stabil.
b. Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang kestabilan masyarakat.
c. Setiap masyarakat biasanya relatif terintegrasi.
d. Kestabilan sosial sangat tergantung pada kesepakatan bersama (konsensus) di kalangan anggota kelompok masyarakat.